Senin, 16 Agustus 2010

SEJARAH MELAYU

403
 
BATAM - Wali Kota (Wako) Batam, Ahmad Dahlan berziarah ke Pulau Penyengat, Tanjung Pinang pada Jumat (14/5). Dalam kesempatan itu, Wako bersama rombongan menunaikan Shalat Jumat di Masjid Raya Sultan Riau. Wako juga diminta oleh tokoh masyarakat setempat untuk menjadi khatib dan memberi khutbah pada kesempatan itu. Usai menunaikan Shalat Jumat, Wako mengatakan tujuannya ke Pulau Penyengat tersebut dalam rangka wisata religi dan berziarah untuk menggali sejarah melayu. Secara pribadi, Wako sangat berminat terhadap sejarah melayu yang ada di Kepulauan Riau. Terlebih tidak banyak orang yang menggali sejarah melayu. Padahal jika diurai, sejarah melayu sangat panjang. Kepada wartawan, Wako mengatakan bahwa Batam merupakan bagian dari melayu yang mendapat kewenangan otonomi daerah.

Bercerita tentang sejarah Pulau Penyengat, Wako menyebut dahulu Pulau ini bernama Pulau Penyengat Indera Sakti. Pada tahun 1803 Pulau Penyengat telah dibina dari sebuah pusat pertahanan menjadi negeri dan kemudian berkedudukan Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga. Sementara Sultan berkediaman resmi di Daik Lingga. Baru kemudian pada tahun 1900 Sultan Riau Lingga ke Pulau Penyengat. Sejak itu lengkaplah peranan Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, adat istiadat, agama Islam dan Kebudayaan Melayu. Di pulau yang terletak di sebelah Barat Kota Tanjung Pinang ini, banyak tempat-tempat yang bisa dikunjungi. Diantaranya, bekas gedung Engku Haji Daud Tabib Kerajaan, Makam Engku Puteri Permaisuri Sultan Mahmud, Makam Raja Ali Haji Marhum Teluk Ketapang, bekas Istana Sultan Abdul Rahman Muazam Sah, bekas Gedung Tengku Bilik, Makam Marhum Jaafar, bekas Istana Raja Haji Ali Marhum Kantor, Makam Marhum Kampung Bulang, Gudang Mesiu dan 12 Kubu (Benteng dan Parit-parit Pertahanan).

“Di Batam kita kenal dengan sejarah Nong Isa yang memulai masa pemerintahannya sejak tahun 1829 yang kita kenal dengan Nongsa. Peninggalannya ada di Nongsa demikian dengan zuriyatnya,” cerita Wako yang berkunjung bersama istrinya, Mariana Dahlan.

Melihat kondisi Pulau Penyengat saat ini, Wako menilai masih banyak yang harus dikembangkan. Dulu, ketika ia masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Provinsi, pernah dilakukan renovasi terhadap sejumlah bangunan di sana. Katanya, renovasi itu perlu dilakukan untuk pengembangan Pulau Penyengat namun tidak merubah bentuk. Bicara mengenai anggaran untuk pengembangan pulau tersebut, bisa menggunakan anggaran dari Pemko Tanjung Pinang. Mengingat Pulau Penyengat berada di Kota Tanjung Pinang. Namun alangkah lebih baiknya jika dianggarkan melalui Pemprov Kepri. Bahkan jika perlu untuk pengembangan pulau itu bisa dengan memungut pada pintu masuk pulau. Menurutnya masyarakat bisa memungut terhadap setiap pengunjung yang datang. Dan diyakini pengunjung tidak akan keberatan asalkan peruntukkannya jelas.

“Walau pun tapak, asal pandai mengemasnya akan terlihat menarik,” katanya.

Sejalan dengan Visit Batam 2010, maka pada tahun 2015 mendatang Batam akan menjadi gate way Indonesia. Setiap mereka yang berkunjung ke Tanjung Pinang atau daerah di Provinsi Kepri lainnya akan masuk melewati Batam. Dalam khutbah Jumatnya, Wako menyinggung soal pendidikan. Di era globalisasi ini ilmu pengetahuan diatas segala-galanya. Peninggalan dari keturunan-keturunan menurutnya tidak cukup untuk dibagikan kepada anak cucu kita. Bahkan untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak kita, pemerintah telah membangun sekolah baik negeri maupun swasta. Melalui shalat Jumat tersebut, Wako mengajak agar orang tua memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.

Turut serta mendampingi Wako dalam kegiatan wisata religi tersebut, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Azwan, Asisten Ekonomi Pembangunan, Syamsul Bahrum, Kabag Tata Pemerintahan, Heriman HK, Kabag Aset dan Perlengkapan, Raja Kamaruzaman, Kabag Protokol, Aspawi Nangali dan Kepala Kantor Satuan Pamong Praja, Zulhelmi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar