Selasa, 19 Oktober 2010

Info. Tentang Kabupaten Lingga

Kabupaten LinggaPDFCetakE-mail
Kondisi Umum
Kabupaten Lingga merupakan kabupaten termuda di Provinsi Kepulauan Riau setelah lepas dari Kabupaten Kepulauan Riau sejak Mei 2004. Beribukotakan Daik namun lebih dikenal dengan sebutan “Negeri Segantang Lada”. Daerah ini terdiri dari tiga gugusan pulau besar, yang sering disebut dengan istilah selingsing (Senayang, Lingga dan Singkep).
Kabupaten Lingga memiliki sebaran terumbu karang yang hampir merata di setiap pulaunya dengan perkiraan total hamparan mencapai sekitar 15.178 Ha. Oleh karenanya, 85% penduduk Pulau Senayang dan Lingga menggantungkan hidupnya pada terumbu karang baik secara langsung maupun tidak. Untuk itu, perlu suatu pengelolaan ekosistem dalam pemanfaatan sumberdaya yang berkelanjutan.
Karena perannya tersebut, Pulau Senayang dan Lingga ketika msih berada di Kabupaten Kepulauan Riau ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah melalui SK Bupati Kepulauan Riau No. 71/III/2002 tentang Penetapan Wilayah Pengelolaan Terumbu Karang.

Letak Geografis
Secara geografis, KKLD Senayang dan Lingga berada diantara 103041’03,37” - 105017’04,15” LU dan 0030’07,21” - 3052’28,41” BT.sementara secara administratif, kabupaten ini berbatasan dengan Kecamatan Galang, Kota Batam dan Laut Cina Selatan di sebelah utara, sebelah timur dengan Lau Cina Selatan, sebelah selatan dengan Laut Bangka dan Selat Berhala, dan sebelah barat dengan Laut Indragiri.

Aksesibilitas
Tidak sulit untuk mengunjungi Kabupaten Lingga karena transportasi laut telah cukup memadai, dimana banyak perusahaan pelayaran swasta yang mengoperasikan ferry penumpamg. Pelayaran dengan kapal penyeberangan (ferry) dari Pelabuhan Tanjung Pinang di Pulau Bintan ke Pulau Singkep hanya memakan waktu selama 3 jam. Selanjutnya untuk pergi ke Diak sebagai ibu kota kabupaten, harus berganti kapal dan menambah 1 jam lagi pelayaran.

Iklim
Senayang dan Lingga dipengaruhi oleh empat musim lokal, yaitu musim utara, selatan, timur dan barat. Musim utara paling berpengaruh baik terhadap lingkungan maupun dampaknya kepada kehidupan manusia. Klimatologi pada umumnya beriklim basah dengan curah hujan per tahun rata-rata sekitar 2.214 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 110. Temperatur terendah 220C dan tertinggi 320C dengan kelembaban udara 85%.

Kondisi Perairan
Perairan di sekitar wilayah Senayang dan Lingga umumnya mempunyai kedalaman yang relative dangkal yaitu sekitar 40 m dengan dasar lumpur berpasir dan berkarang. Salinitas perairan daerah ini antara 28%-35%. Kecepatan arus dan perbedaan pasang surut tidak sebesar di Selat Malaka. Perairan daerah ini dipengaruhi oleh massa air yang datang dari Laut Cina Selatan dan Laut Jawa.

Kondisi Ekosistem Perairan
Spesies-spesies bakau yang paling dominan dijumpai adalah Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Aegiceras corniculatum, dan Pempis acidula. Di dalam ekosistem hutan bakau hidup berbagai fauna seperti kera, buaya, ular bakau, dan beragam burung.
Di kawasan perairan ditemukan keanekaragaman jenis karang yang cukup tinggi terutama dari genus Acropora. Jenis karang yang ditemukan adalah coral submassiveAcropora tabulateAcropora branching, Acropora digitata, dan coral mushroom.
Jenis ikan yang banyak ditemukan di perairan adalah tenggiri, cakalang, sunu, kerapu, hiu, selar, dan lain-lain. Ikan hias menjadi favorit untuk diekspor adalah ikan ekor kuning (Caesio sp).
Lumba-lumba dan duyung adalah jenis mamalia yang masih bisa dijumpai di sekitar Kepulauan Riau. Kehadirannya dianggap suatu hal yang menggembirakan karena bisa menjdi hiburan dan tontonan sehari-hari. Lumba-lumba yang sering dijumpai adalah lumba-lumba hidung botol (Bottle-nose Dolphin).
Biota lain yang sering dijumpai adalah kima, gurita, sotong dan kuda laut.

Kondisi Sosial Ekonomi dan Budaya
Jumlah penduduk pada tahun 2001 di lima desa Kecamatan Senayang sebanyak 3.454 iwa, dan di dua desa Kecamatan Lingga sebanyak 1.917 jiwa. Kegiatan ekonomi Kabupaten Lingga ditopang oleh hasil perikanan yang menyumbangkan 46%. Oleh karenanya sangat wajar, bila industri perkapalan tradisional (pompong) cukup tumbuh dengan baik. Pengrajin telah menggunakan peralatan semi modern dengan teknologi pembuatan secara turun temurun.
Beberapa etnis yang tinggal di daerah ini adalah suku Melayu, Cina, Flores, Buton, Minang, dan Bugis. Etnis terbesar adalah Melayu, dengan agama Islam yang kuat.

Mata Pencaharian
Penduduk di Pulau Lingga umumnya hidup dari bercocok tanam terutama perkebunan, seperti karet, kelapa, lada, cengkeh, kopi, coklat, dan sagu. Sementara penduduk Pulau Senayang, mayoritas bekerja sebagai nelayan. Berbeda den gan Pulau Lingga dan Senayang, penduduk Pulau Singkep akan bekerja sebagai pendulang emas hitam ketika karet tidak bisa lagi disadap atau laut sedang sulit dilayari.

Potensi Perikanan
Potensi perikanan yang cukup tinggi dapat dilihat dari teridentifikasinya jenis ikan ekonomis yang ditangkap nelayan seperti ikan tenggiri, sunu, kerapu, selar, dan lain-lain. Kegiatan perikanan lainnya adalah budidaya, yang dilakukan sebagai kegiatan sampingan nelayan bubu. Adapun kegiatan budidayanya adalah karamba dan rumput laut.
Budidaya karamba lebih cenderung pada penangkaran hasil tangkap bubu yang belum cukup ukuran. Jenis ikan yang menjadi primadona untuk dibesarkan anata lain ikan sunu, ketarap, dan gelam.
Beberapa jenis ikan hias yang terdapat di Kepulauan Riau menjadi komoditas ekspor yang cukup potensial untuk mendongkrak perekonomian masyarakat. Caesio sp, Caranx sp, Ephinephelus sp, Amphiprion sp adalah jenis-jenis ikan hias yang sangat populer di kalangan masyarakat nelayan, akan tetapi bagi mereka Caesio sp lebih favorit untuk diekspor.

Pendekatan Konservasi
Pendekatakan konservasi dalam penetapan kawasan konservasi adalah sebaran terumbu karang yang hampir merata di setiap pulaunya dengan perkiraan total hamparan mencapai sekitar 15.178 Ha. Luasnya hamparan terumbu karang tersebut mempunyai andil besar dalam mendukung kehidupan berbagai jenis biota laut ekonomis penting.

Pariwisata
Kabupaten Lingga memiliki banyak lokasi yang potensial untuk dikembangkan sebagai objek wisata, diantaranya adalah:
Pulau Kapal, dengan pasir putih dan penyu sisiknya.
Selat Kongko dan Kongki, dengan hutan mangrove dan buayanya.
Terumbu Cawan, dengan karang dan burung camarnya.
Ulu Temiang, dengan sungainya yang berliku-liku dan berhutan bakau lebat di kiri dan kanan serta memberikan pengalaman yang menakjubkan bagi wisatawan. Sebagai tujuan akhir dari petualangan menesuluri Sungai Ulu kita akan menikmati “Mangrove Track” dengan kendaraan pompongdan akan sampai di perkampungan yang damai dengan buah khasnya, yaitu durian.
Gunung Diak, merupakan gunung yang cukup terkenal di Lingga dengan puncaknya yang bercabang dua dan sering merupakan pusat budaya Melayu pada saatnya dan juga sebagai ibukota Kecamatan Lingga.
Pulau Benan, memiliki goa dan benteng peningggalan Jepang yang terletak di bukit pulau tersebut yang dapat dijadikan daya tarik wisata sejarah. Di pulau ini juga hidup beribu-ribu kelelawar, yang akan memberikan pemandangan menakjubkan pada saat mereka pulang di sore hari.
Klenteng Tua, terdapat di Centeng dan Sambau Desa Limbung merupakan tempat yang selalu dikunjungi oleh para pendatang dari luar Desa Limbung pada saat hari raya Tionghoa setiap tahunnya.
Untuk Wisata Bahari, Senayang-Lingga memiliki lokasi penyelaman seperti Pulau Mamut, Pulau Perangoi, Pulau Enan, Pulau Katang, dan beberapa pulau lainnya.
Wisata Sejarah, sebagai pusat Kerajaan Melayu, wilayah Kepulauan Riau banyak meninggalkan situs sejarah yang layak untuk dijadikan kawasan wisata sejarah, Pulau Lingga dengan luas sekitar 8.268,7 km2  memiliki situs sejarah terbanyak dan dapat dijadikan sebagai kawasan wisata sejarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar